Rabu, 25 Februari 2015

Penelitian Tindakan Kelas



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latarbelakang
Dalam proses belajar mengajar yang menjadi proses persoalan dan tumpuan perhatian adalah siswa. Karena siswa atau peserta didik sebagai pihak yang ingin meraih cita-citanya serta memiliki tujuan masing-masing. Sebaliknya guru menjadi faktor penentu untuk dapat mempengaruhi segala sesuatu yang diperlukan untuk mencapai tujuan baik jangka pendek maupun jangka panjang, memberikan fasilitas pencapaian tujuan melalui pengalaman belajar yang memadai dan membantu perkembangan aspek-aspek pribadi seperti nilai, sikap, dan penyesuaian diri.
Pendidikan kewarganegaraan merupakan mata pelajaran yang memfokuskan pada pembentukan warganegara yang memahami dan mampu melaksanakan hak-hak dan kewajibannya untuk menjadi warganegara Indonesia yang cerdas, terampil, dan berkarakter yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945.
Walaupun Pendidikan Kewarganegaraan termasuk kajian ilmu sosial namun dari sasaran atau tujuan akhir pembentukan hasil dari pelajaran ini mengharapkan agar siswa sebagai warga negara memiliki kepribadian yang baik, bisa menjalankan hak dan kewajibannya dengan penuh kesadaran karena wujud cinta atas tanah air dan bangsanya sendiri sehingga tujuan NKRI bisa terwujud. Mengingat ruang lingkup materi yang sangat luas dan tujuan yang hendak dicapai, maka guru sudah berusaha untuk memberikan pelajaran semaksimal mungkin, namun pemahaman siswa terhadap materi yang diberikan masih kurang.
Kejenuhan siswa terlihat dalam PBM yang sering mencari tempat duduk yang agak ke belakang bahkan ketika PBM sedang berlangsung banyak siswa yang mengantuk atau berbincang dengan teman sebangku. Sehingga siswa kurang terlibat aktif dalam kelas karena pada saat PBM siswa hanya diam saja, diam mengerti atau diam tidak mengerti. Pada saat guru mengajukan pertanyaan, siswa ragu-ragu menjawab pertanyaan guru tersebut sehingga aktivitas siswa dalam PBM rendah dan sebagian besar siswa mengalami kesulitan.
Agar mata pelajaran ini menarik bagi siswa sehingga mereka senang mengikutinya dan dapat menguasai materi pelajaran dengan baik serta dapat menerapkannya pada kehidupan sehari-hari diperlukan motivasi belajar yang tinggi. Untuk itu guru harus berusaha untuk meningkatkan motivasi belajar siswa agar hasil belajar siswa juga baik,
Untuk itu digunakan strategi pembelajaran yang menyenangkan dan mengaktifkan siswa. Metode pengajaran tersebut harus sesuai dengan karekteristik materi pelajaran yang membutuhkan banyak hafalan dan pemahaman. Strategi pembelajaran kooperatif “Type Make a Match” merupakan salah satu strategi belajar yang cocok digunakan dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan. Dengan strategi ini siswa lebih aktif dan termotivasi  dalam belajar apabila mereka diberikan tugas dengan menjawab pertanyaan guru. Sehingga strategi ini akan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
Mengatasi masalah diatas, maka guru perlu mengetahui bagaimana mengusahakan setiap aspek atau komponen yang terlibat dalam pengajaran dapat mendukung peningkatan hasil belajar siswa. Untuk itulah peneliti dan guru tertarik untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul “Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Dengan Strategi Pembelajaran Kooperatif Type Make a Match Pada Siswa Kelas XA MAN Koto Baru Kabupaten Solok”
B.     Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan dan pengamatan dalam pelaksanaan PBM dapat diidentifikasi beberapa permasalahan yang dihadapi dalam belajar Pendidikan Kewarganegaraan di kelas XA MAN KOTO BARU sebagai berikut:
a.       Sebagian besar siswa tidak dapat menjawab pertanyaan yang diberikan setelah selesai materi pelajaran disampaikan oleh guru.
b.      Siswa kurang mampu mengingat kembali materi yang telah diajarkan, sehingga prestasi belajar siswa rendah
c.       Sebagian besar siswa kurang termotivasi dalam belajar Pendidikan Kewarganegaraan sehingga sering mencari tempat duduk yang bagian belakang agar tidak menjadi perhatian guru dan ada pula  siswa yang sering minta izin keluar.
d.      Pendekatan pembelajaran yang dilakukan dalam belajar kurang memperhatikan karakteristik materi pelajaran yang memerlukan penguasaan materi secara tuntas bagi seluruh siswa sebelum melanjutkan kemateri selanjutnya.
e.       Metode pembelajaran yang digunakan oleh guru kurang tepat sehingga siswa kurang terlibat aktif dalam kelas
C.    Pembatasan Masalah
Berdasarkan penjelasan pada latar belakang dan identifikasi masalah di atas, maka penelitian ini dibatasi pada: Peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan Strategi Pembelajaran Kooperatif Type Make a Match Pada Siswa Kelas XA MAN Koto Baru Kabupaten Solok.
D.    Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang dikemukakan  di atas, maka permasalahan dalam penelitian tindakan kelas ini dapat dirumuskan sebagai berikut : “Bagaimana cara meningkatkan hasil pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Siswa Dengan Strategi Pembelajaran Kooperatif Type Make a Match Pada Siswa Kelas X MAN Koto Baru Kabupaten Solok?”
E.     Tujuan Penulisan
Melalui Penelitian Tindakan Kelas ini diharapkan akan diperoleh pendekatan pembelajaran yang dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di kelas XA MAN Koto Baru Kabupaten Solok sehingga diharapkan :
1.      Siswa dapat terlibat secara aktif dalam PBM
2.      Terjadi peningkatan penguasaan materi pembelajaran bagi siswa
3.      Siswa dapat memahami konsep-konsep Pendidikan Kewarganegaraan
F.     Manfaat Penulisan
1.      Bagi Guru
a.       Diharapkan akan terjadi perbaikan strategi mengajar
b.      Melatih diri untuk selalu professional
2.      Bagi Siswa
a.       Diharapakn cara belajar siswa akan berobah dari pasif menjadi aktif
b.      Diharapakan hasil belajar siswa akan meningkat
3.      Bagi Sekolah
a.       Agar tenaga pengajar disekolah lebih professional pada bidangnya dan mampu merefleksi diri untuk kemajuan pendidikan siswa.





















BAB II
LANDASAN TEORI

A.    Kajian Pustaka
      Strategi dan metoda pembelajaran merupakan salah satu keterampilan teknis, yang sangat mempengaruhi pencapaian tujuan pengajaran. Nana Sudjana (1994 hal 3), menyatakan strategi mengajar yaitu usaha guru dalam mengatur dan menggunakan variasi pengajaran dengan mempengaruhi siswa dalam mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya.
Keterampilan memvariasikan pembelajaran merupakan hal penting yang harus diperhatikan guru, karena dengan memvariasikan, pembelajaran akan dapat lebih menimbulkan minat belajar siswa. Kemudian juga sesuai dengan pernyataan Iwansyah Ali Pundie (1984 hal 16) bahwa untuk memperoleh hasil pengajaran sebaiknya guru dalam pembelajaran selalu berusaha untuk membangkitkan minat belajar sehingga seluruh perhatian mereka tertuju dan terpusat pada materi pembelajaran yang sedang berlangsung. Pendapat ini dikemukakan lagi oleh Robert Slavin (1990 hal 13 : Belajar bersama dan bertanggung jawab terhadap teman kelompok untuk mendapatkan hasil yang baik, meningkatkan aktivitas, keberanian mengemukakan pendapat serta terciptanya hubungan/interaksi sesame siswa, akan terwujud dalam metoda pembelajaran kooperatif.
Pembelajaran terpusat pada guru sampai saat ini masih menemukan beberapa kelemahan. Kelemahan tersebut dapat dilihat pada saat berlangsungnya proses pembelajaran di kelas, interaksi aktif antara siswa dengan guru atau siswa dengan siswa jarang terjadi. Siswa kurang terampil menjawab pertanyaan atau bertanya tentang konsep yang diajarkan. Siswa kurang bisa bekerja dalam kelompok diskusi dan pemecahan masalah yang diberikan. Mereka cenderung belajar sendiri-sendiri. Pengetahuan yang didapat bukan dibangun sendiri secara bertahap oleh siswa atas dasar pemahaman sendiri. Karena siswa jarang menemukan jawaban atas permasalahan atau konsep yang dipelajari.
Untuk memperbaiki hal tersebut perlu disusun suatu pendekatan dalam pembelajaran yang lebih komprehensip dan dapat mengaitkan materi teori dengan kenyataan yang ada di lingkungan sekitarnya. Atas dasar itulah peneliti mencoba mengembangkan pendekatan kooperatif dalam pembelajaran dengan metode make a match.
Model pembelajaran kooperatif didasarkan atas falsafah homo homini socius, falsafah ini menekankan bahwa manusia adalah mahluk sosial (Lie, 2003:27). Sedangkan menurut Ibrahim (2000:2) model pembelajaran kooperatif merupakan model pembelajaran yang membantu siswa mempelajari isi akademik dan hubungan sosial. Ciri khusus pembelajaran kooperatif mencakup lima unsur yang harus diterapkan, yang meliputi; saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, tatap muka, komunikasi antar anggota dan evaluasi proses kelompok (Lie, 2003:30).
Model pembelajaran kooperatif bukanlah hal yang sama sekali baru bagi guru. Model pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran yang mengutamakan adanya kelompok-kelompok. Setiap siswa yang ada dalam kelompok mempunyai tingkat kemampuan yang berbeda-beda (tinggi, sedang dan rendah) dan jika memungkinkan anggota kelompok berasal dari ras, budaya, suku yang berbeda serta memperhatikan kesetaraan jender. Model pembelajaran kooperatif mengutamakan kerja sama dalam menyelesaikan permasalahan untuk menerapkan pengetahuan dan keterampilan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
Guna meningkatkan partisipasi dan keaktifan siswa dalam kelas, guru menerapkan strategi pembelajaran make a match. Strategi make a match atau mencari pasangan merupakan salah satu alternatif yang dapat diterapkan kepada siswa. Penerapan strategi ini dimulai dari teknik yaitu siswa disuruh mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban/soal sebelum batas waktunya, siswa yang dapat mencocokkan kartunya diberi poin.
Strategi pembelajaran make a match atau mencari pasangan dikembangkan oleh Lorna Curran (1994). Salah satu keunggulan teknik ini adalah siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Langkah-langkah penerapan metode make a match sebagai berikut:
1.      Guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban.
2.      Setiap siswa mendapatkan sebuah kartu yang bertuliskan soal/jawaban.
3.      Tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang.
4.      Setiap siswa mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya. Misalnya: pemegang kartu yang bertuliskan nama tumbuhan dalam bahasa Indonesia akan berpasangan dengan nama tumbuhan dalam bahasa latin (ilmiah).
5.      Setiap siswa yang dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin.
6.      Jika siswa tidak dapat mencocokkan kartunya dengan kartu temannya (tidak dapat menemukan kartu soal atau kartu jawaban) akan mendapatkan hukuman, yang telah disepakati bersama.
7.      Setelah satu babak, kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya.
8.      Siswa juga bisa bergabung dengan 2 atau 3 siswa lainnya yang memegang kartu yang cocok.
9.      Guru bersama-sama dengan siswa membuat kesimpulan terhadap materi pelajaran.














BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.    Jenis Penelitian
Penelitian ini berbentuk penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan Siswa kelas XA.
Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif yang bersifat deskripsi, yang bertujuan untuk meninjau serta mengungkapkan secara tetap kenyataan yang bada saat ini. Suharsimi Arikunto (1989: 14) menjelaskan bahwa penelitian deskriptif adalah sebagai berikut “Penelitian deskriptif tidak dimaksudkan untuk menguji hipotesis tertentu tetapi hanya menggambarkan apa adanya tentang sesuatu variabel gejala atau keadaan”.

B.     Setting Penelitian
Penelitian ini berbentuk penelitian tindakan kelas yang dilakukan dalam mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan bagi siswa kelas XA MAN Koto Baru Kabupaten Solok. Dalam penelitian ini, peneliti hanya meneliti satu kelas yaitu kelas XA. Alasannya karena umumnya setiap kelas memiliki masalah yang sama, oleh sebab itu untuk tidak membuang waktu dan tenaga maka penulis hanya meneliti satu kelas saja untuk dijadikan sampel yang mana jumlah siswanya yaitu 33 orang. Peneliti adalah mahasiswa jurusan Teknologi Pendidikan FIP UNP BP 2011 yang kini kuliah pada semester 6 yang bekerja sama dengan guru mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan.

C.    Persiapan Penelitian
Persiapan yang dilakukan sebelum dilakukan penelitian adalah :
1.      Menyusun jadwal penelitian.
2.      Menyusun RPP.
3.      Menyusun test awal.
4.      Membuat instrument untuk observasi tentang kreatifitas belajar siswa..
5.      Membuat instrument untuk siswa berupa :
·        Angket siswa tentang strategi pembelajaran.
6.      Test akhir (sama dengan test awal) dilengkapi dengan penerapan berupa soal essay.

D.    Siklus Penelitian
Penelitian ini diadakan 2 siklus, masing-masing siklus diadakan 2 kali pertemuan. Tiap siklus dilakukan dengan rencana tindakan yang menekankan pada metode kooperatif “Type Make a Match” kelas yang mengutamakan keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran.
Sebelum kegiatan dilakukan di dalam kelas terlebih dahulu disusun rencana kegiatan dalam bentuk RPP yang intinya berisi tujuan yang akan dicapai, materi yang akan diajarkan, menyiapkan tugas yang akan diberikan. Dan mempersiapkan instrumen berupa pedoman observasi dan angket yang digunakan.
      Pada awal pertemuan guru melakukan tanya jawab dengan siswa mengenai materi yang telah dipelajari pada pertemuan sebelumnya. Kemudian guru memberikan penjelasan tentang pokok bahasan yang akan dipelajari pada pertemuan sekarang dan memberikan tugas untuk membaca buku serta mencari informasi sebanyak-banyaknya tentang materi yang akan dipelajari dengan waktu yang telah ditentukan.
Ketika siswa sedang membaca bukunya, guru berkeliling mengamati. Setelah waktu untuk membaca buku berakhir, siswa dibagi dalam dua kelompok. Kelompok satu yaitu kelompok siswa laki-laki dan kelompok kedua yaitu siswa perempuan. Lalu guru memberikan kartu yang berisi pertanyaan dan jawaban. Kartu yang berisi tentang pertanyaan dibagikan kesiswa laki-laki dan kartu yang berisi jawaban diberikan kepada siswi perempuan. Selanjutnya siswa dan siswi berebut untuk mencari pesangan dari kartunya. Apabila siswa dan siswi tersebut benar-benar memahami materi yang dipelajari, maka dengan mudahnya mereka akan menemukan kartu berpasangannya. Apabila semua siswa sudah menemukan pasangan dari kartu nya tersebut, maka guru memberi waktu kepada setiap siswa dan pasangannya untuk menjelaskan isi atau materi yang ada dikartunya. Di akhir pertemuan guru merangkum pelajaran dan menjelaskan pertanyaan yang diajukan oleh peserta didiknya.
Pada waktu tindakan yang dilakukan peneliti mengamati dan mencatat kejadian-kejadian dalam kelas yang positif dan negatif. Berdasarkan hasil pengamatan peneliti masalah-masalah yang ditemui di diskusikan untuk menentukan bentuk perbaikan tindakan pada kegiatan berikutnya dengan menyusun rencana tindakan.

E.     Instrumen Penelitian
Data penelitian ini instrumen yang digunakan adalah berupa :
¨      Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data yang digunakan berupa observasi dan studi dokumentasi
¨      Teknik pengolahan data
Teknik pengolahan data yang digunakan berupa kertas tugas dan nilai yang diperoleh siswa selama pembelajaran berlangsung.

B.     Hipotesis Tindakan
Hipotesis tindakan yang dikemukakan dalam penelitian ini adalah bahwa strategi pembelajaran kooperatif type make a match dapat meningkatkan hasil belajar siswa dalam belajar Pendidikan Kewarganegaraan di MAN Koto Baru Kabupaten Solok.






DAFTAR PUSTAKA

Hamalik, Oemar. 2004. Proses Belajar Mengajar. Cet. ke-3. Jakarta: PT Bumi Aksara.
Ibrahim, H. Muslimin. 2000. Pembelajaran Kooperatif. University Press: Surabaya
Lie, Anita. 2002. Cooperative Learning. Mempraktikkan Cooperative Learning di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: PT. Grasindo.
Imam Syah Alipundi. (1984). Didaktik Metodik Penelitian Umum. Usaha Nasional: Surabaya.
Nana Sujana. (1996). Cara Belajar siswa Aktif Dalam Proses Belajar Mengajar. Sinar Baru Algerisivilo: Bandung.
Mel Siberman. (2002). Active Learning 101 Strategi Pembelajaran Aktif. Yappendis: Yogyakarta.